Sejarah

SEJARAH DAN ASAL USUL DESA BOTUH LINTAKNG PEMEKARAN DARI DESA NANGA BIANG KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU

Berdasarkan aspirasi masyarakat Desa Nanga Biang secara khusus yang tergabung dalam Dusun Kenual, Dusun Kayan dan Sido Makmur (ex. UPT XLII) mengusulkan pemekaran Desa yang diberi nama Desa Botuh Lintakng. ”Botuh Lintakng” berasal dari bahasa suku dayak Jangkang Jungor Tanjung. Botuh artinya batu sedang Lintakng yang dimaksud di sini adalah melintang atau berada di tengah. Nama Desa ini memimiliki sejarah tersendiri. Botuh Lintakng merupakan lokasi yang berada diperbatasan antara Dusun Kenual dan dusun Kayan. Sampai sekarang botuh Lintakng masih ada. Mengapa dikatakan Botuh lintakng? Menurut sejarah, daerah yang dinamakan botuh Lintakng merupakan daerah yang biasanya tempat masyarakat berburu babi hutan atau binatang yang lain. Dikatakan botuh lintakng karena batu itu melintang di tengah sungai, yang mana di sungai itu ada riam. Batu itu akhirnya merupakan jalan umum dimana setiap orang yang melewati jalan itu secara otomatis melihatnya. Berhubung lokasi botuh lintakng adalah tempat berburu maka setiap orang yang mendapat hasil buruannya mereka membakar dan membagi hasil buruan di sekitar botuh itu. Dan juga di atas botuh itu orang memotong daging hasil buruan atau istilah lain sebagai tempat ”menyompa laok”. Maka bagi orang yang setiap kali mendapat buruan mereka selalu menyebut daerah itu tempat menyompa laok. Masyarakat yang berburu di sekitar itu berasal dari Kenual dan Kayan. Sehingga kalau mereka sama-sama mendapat babi atau binatang lain mereka berbagi dan menyompanya di tempat botuh Lintakng.

Menurut cerita bahwa tidak jauh dari lokasi botuh lintakng pada tahun yang lampau ada seorang Kakek yang membuat ladang dan akhirnya mendirikan pondok. Pondok seorang kakek itu disebut pelaman Ake Kok karena yang memiliki pelaman itu namanya Kok atau Ulai. Kakek Kok adalah masyarakat dusun Kayan. Jadi dapat disimpulkan bahwa botuh lintakng bersejarah karena fungsinya. Untuk bertemu, menyompa laok, lokasi pertemuan orang kenual dan kayan dan juga perbatasan orang Kenual dan Kayan. Atas dasar ini nama Desa yang akan dimekarkan dari gabungan masyarakat Kenual dan Kayan dinamakan Desa Botuh Lintakng. Nama desa ini diambil dari bahasa setempat untuk mencirikan kekhasan kedaerahan dan kesetiaan pada sejarah dan asal usul peristiwa.

Setelah melukiskan gambaran dan asal Usul nama Desa, ada baiknya diurakan sejarah kepemimpinan masing-masing Dusun serta asal usul kedua dusun tersebut. Sebelum Indonesia merdeka atau sekitar zaman penjajahan Jepang tahun 1925 merantaulah beberapa orang dari kampung Kelampai daerah Entakai ke daerah yang disebut dusun Kayan sekarang. Sebelumnya nama kampung itu disebut kampung Nota. Setelah beberapa lama ompu Nota mendiami kampung itu, terjadi peristiwa melanda kampung itu, yaitu kebakaran. Atas dasar itu, nama kampung Nota diubah menjadi ompu mosu. Mosu artinya terbakar. Pada saat berada di ompu mosu, kepala kampung pertama adalah Jawan atau Ake’ Boretn dengan kebayannya Calum. Ake Boretn memimpin kampung Mosu tahun 1925-1946. Pada 1946-1966 kepemimpinan Ompu Mosu dipimpin oleh Ulai (Ake’ Kok) sebagai Kebayan masih tetap Calum. Ulai diganti oleh Doyol yang memimpin sejak tahun 1966-1975 sebagai Kebayan adalah Calum. Pada saat permulaan kepemimpinan Doyol, Ompu Mosu pindah ke hulu sungai. Sungai itu adalah sungai Kayan. Sejak mendiami hulu sungai Kayan, nama Ompu Mosu diganti menjadi kampung Kayan. Ketika mendiami Kampung Kayan, penduduk membuat rumah panjang yang disebut Ompu Domuh. Nama kayan diambil dari nama sungai yaitu sungai kayan. Disebut ompu kayan karena mereka sudah menetap di sekitar sungai Kayan. Nama Kayan sampai sekarang tetap dipakai sampai sekarang telah menjadi Dusun.

Setelah kepemimpinan Doyol berakhir pada tahun 1975 maka Tabung menjadi kepala kampung Kayan sebagai kebayan adalah Calum. Belum lama kepemimpinan Tabung, Calum sebagai kebayan mengundurkan diri dengan demikian diganti oleh Aleng sebagai Kebayan. Pada tahun 1990-1997 Aleng menggantikan Tabung sebagai kepala kampung dan kebayan adalah Nuan. Kurang lebih lima tahun Nuan menjabat sebagai kebayan, beliau mengundurkan diri dan  diganti oleh Pit. Aleng tetap menjadi kepala kampung sampai tahun 1997. Pada tahun 1997 Aleng digantikan oleh Jampong sedangkan sebagai kebayan adalah Bolel. Kepemimpinan Jampong berakhir tahun 1999. Tahun 1999 Jampong digantikan Aleng sebagai kepala kampung sampai tahun 2001 dan sebagai kebayan adalah Bolel. Selesai masa kepemimpinan Aleng sebagai kepala kampung digantilah oleh Bansen sebagai kepala kampung. Kepala Desa Nanga Biang pada waktu itu adalah Mastahar. Mastahar diganti oleh Apan sebagai Kepala desa Nanga Biang tahun 2008 sampai sekarang.

Sejak kepemimpinan Bansen sebagai kepala Kampung oleh Pemerintah, kampung Kayan diubah menjadi Dusun. Sejak itu Kayan menjadi Dusun. Pada saat Bansen menjadi Kepala Dusun Kayan, Satatus kebayan juga diganti menjadi Ketua Adat, yang menjabat pada waktu itu adalah Bolel. Pada tahun 2009 masa kepemimpinan Bansen berakhir. Bansen digantikan oleh Agustinus duik sebagai Kepala dusun Kayan sejak tahun 2009 sampai sekarang.

Sejak diganti status nama kampung menjadi dusun, maka yang bergabung dengan dusun Kayan adalah Kampung Kenual dan Sido Makmur. Maka pembagian wilayah juga sudah menggunakan Rukun Tetangga (RT). Dusun Kayan terdiri dari 4 Rt, yaitu Rt. 15 Kenual sebagai ketua RT. Yakobus Akon, Ketua Rt. 16 dusun Kayan Markus Asung, Ketua Rt. 17 Sido Makmur Sutarto dan ketua Rt. 18 Made. Rt. 15 Kenual selama bergabung dengan dusun Kayan disebut sebagai wilayah yang akan dimekarkan menjadi dusun. Karena itu kepemimpinan Kenual disebut PLT yang pada saat itu Rudi Hartono sebagai PLT Kenual.

Pada tahun 2010 sekitar bulan Januari 2010, Rt. 15 Kenual dengan Rt. 17 Sido makmur bergabung mengusulkan pemekaran dusun. Pada tanggal 25 Januari 2010 dilantiklah kepala dusun kenual yang bergabung dengan Rt. 17 Sido makmur. Untuk mengetahui secara rincian sejarah kepempinan dusun Kenual perlu dimuat di bawah ini.

Diperkirakan sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, merantaulah beberapa kelompok masyarakat Entibuh Desa Engkode Kecamatan Mukok ke daerah Amak yang disebut sekarang Kerosik. Menurut cerita, yang mendiami daerah Kerosik pertama kali, ada 8 kepala keluarga (KK) yang berasal dari: 7 KK dari Entibuh dan 1 KK dari Sungai Ubah. Alasan mereka merantau dari daerahnya karena tanah di daerah mereka sedikit dan mereka ingin mengadu nasib di tanah rantau. Kedelapan KK ini ternyata tidak begitu lama menetap di Kerosik dan mereka pindah ke daerah Inggis (tanah milik orang Inggis) Desa Inggis persisnya di Teritokng. Di situ juga mereka tidak lama menetap. Mereka akhirnya berpindah ke tempat yang cukup jauh dari daerah Teritokng dan Kerosik, yaitu ke daerah yang tidak cukup jauh dari RT XV Kenual sekarang, yang pada waktu itu disebut kampung Batang Tembawang. Mereka mendiami kampung Batang Tembawang diperkirakan tahun 1927 sebelum kemerdekaan Indonesia.

Alasan mereka berpindah tempat dan belum menetap sejak mereka mendiami Kerosik Sungai Kenual sampai daerah Teritokng sampai menetap Kampung Batang Tembawang adalah karena pada saat itu terjadi keanehan yaitu banyak penduduk mengalami penyakit sehingga banyak yang meninggal atau istilah bahasa kampungnya adalah meninggal karena penyakit amparatn. Karena tidak ”rasi” atau ”sial” tinggal di dua tempat itu mereka pindah ke kampung Batang Tembawang, yang disebut mereka dulu kampung Entibuh Kenual. Jika orang Entibuh Kenual ini kembali ke daerah asalnya Entibuh desa Engkode Kecamatan Mukok untuk berkunjung atau ”ponga” waktu gawai, penduduk asli Entibuh menyebut mereka adalah Entibuh Rimba karena mereka mendiami daerah rimba dan hutan lebat di daerah Amak. Padahal bagi penduduk perantau itu, mereka tidak menyebut dirinya orang rimba tetapi Entibuh Kenual. Karena mereka berasal dari Entibuh tetapi mereka menambah nama kampung mereka dengan kata Kenual untuk membedakan penduduk asli dengan penduduk yang merantau. Mereka tetap membawa nama Entibuh sehingga namanya menjadi kampung Entibuh Kenual.

Istilah Entibuh Kenual ini masing-masing memiliki makna dan maksud. Mereka tetap mempertahankan kata Entibuh karena mereka merasa tetap warga Entibuh hanya untuk membedakan antara Entibuh asli dengan Entibuh yang merantau mereka menyebut diri orang Entibuh Kenual. Mereka menambahkan kata Kenual diujung Entibuh karena mereka mengingat bahwa pertama kali mereka mendiami daerah di perantauan adalah di Kerosik sekitar sungai Kenual.

Kata kenual berasal dari sejenis pohon yang besarnya diperkirakan besar kepala manusia dewasa dan memiliki daun yang lebar. Kebetulan di Sungai yang ada di sekitar Kerosik banyak pohon kenual maka sungai tersebut disebut sungai kenual yang sampai sekarang masih ada. Bukti nyata bahwa orang Entibuh Kenual pernah mendiami daerah tersebut adalah sampai sekarang masih ada kuburan tua di sekitar sungai kenual. Kuburan itu menunjukkan di mana mereka pernah mendiami daerah itu.

Pada tahun 1927 mereka mendiami tempat yang disebut kampung kenual. Pada masa itu kampung Kenual sering disebut kampung Batang Tembawang karena rumah mereka bersambung memanjang bagaikan rumah betang dan terbuat dari batang kayu dan kulit kayu yang besar. Jadi nama kampung Entibuh Kenual dapat disebut juga kampung Batang Tembawang. Di kampung Batang Tembawang mereka sudah menetap cukup lama. Di situlah mereka mengadu nasib. Ketika mereka mendiami kampung Batang Tembawang kuburan mereka di tempat yang disebut sekarang ”pengaretn kompas” atau kuburan kompas yang jaraknya dari kampung Batang Tembawang kurang lebih 2 KM. Sampai sekarang tempat itu tetap disebut ”pengaretn kompas” dan banyak pohon besar dan tidak diganggu gugat tempatnya. Pengaretn adalah istilah bahasa setempat kuburan sedangkan kompas adalah sejenis kayu besar yang bisa digunakan untuk bahan bangunan.

Tahun demi tahun ternyata penduduk itu semakin banyak, sehingga secara pelan-pelan ada yang membangun rumahnya diujung kampung sehingga menyambung dan memanjang. Lama kelamaan ciri kas rumah Batang Tembawang hilang lalu membentuk rumah diatas tanah tetapi tetap menggunakan tiang yang panjangnya kurang lebih 1-2 meter. Kampung Batang Tembawang akhirnya berpindah sedikit dan menetap sampai sekarang di kampung yang disebut sekarang RT XV Kenual. Kampung Batang Tembawang sekarang telah menjadi tempat tembawang buah-buahan atau disebut ”temawakng”. Di sekitar itu banyak pohon durian, langsat, kawai, peruntatn, rambutan, kelapa dan buah-buahan/pohon yang lain.

Kampung yang berpindah sedikit dari kampung Batang Tembawang itu disebut kampung Entibuh Kenual. Namun di zaman sekarang nama kampung Batang Tembawang atau Entibuh Kenual tidak dipakai lagi bahkan generasi sekarang hampir tidak mengetahui bahwa ada nama kampung Tembawang atau Entibuh Kenual karena yang dikenal sekarang adalah dusun Kenual. Pada waktu yang tidak diketahui dengan pasti ternyata Kenual yang diketahui sebagai dusun tidak termasuk dusun tetapi disebut Rukun Tetangga (RT) dari dusun Kayan karena itu Kenual masih berstatus RT walaupun menurut data dan letak geografisnya layak dibentuk dusun.

Sejak mereka mendiami rumah Batang Temawang atau kampung Entibuh Kenual 1927 sudah ada struktur kepemimpinan yang disebut kepala kampung. Pada saat itu yang pertama kali menjadi kepala kampung adalah Cukai atau dikenal Ake’ Wan dan sebagai kebayan (temenggung) adalah Samat (1927-1937). Cukai ini memiliki kepribadian yang sabar dan bijaksana dalam meminpin. Beliau seorang yang penuh bersikap ramah dan rela berkorban demi masyarakatnya. Selesai masa kepemimpinan Cukai digantilah beliau oleh Subih atau dikenal Ake’ Arik dan sebagai kebayan adalah Ulak (1937-1948). Pada saat kepemimpinan Subih kampungnya sudah berpindah sedikit dari kampung Batang Temawang yang jaraknya kurang lebih setengah KM dan menetap sampai sekarang yang dikenal Kenual. Subih diganti oleh Ulak dan sebagai kebayan adalah Suri (1948-1956).  Pada tahun 1956-1966 kampung Kenual dipimpin oleh Suri dan sebagai kebayan adalah Tahak, setelah itu Suri diganti oleh Bilai tahun 1966-1975 dan sebagai kebayan adalah Daud. Bilai diganti oleh ASUN tahun 1975-1981 dan sebagai kebayan adalah Jada. Pada tahun 1981, Asun diganti oleh Tahak sampai tahun 1986 dan sebagai kebayan adalah Abas. Petrus Mis menggantikan Asun (1982-1992) dan sebagai kebayan Cadok. Pada saat kepemimpinan Petrus Mis yang menjadi kepala desa Nanga Biang adalah Bong.

Pada tahun 1998 diadakan pemilihan kepada desa periode 1998-2003 yang dimenangkan oleh Mastahar sebagai pengganti Bong sedangkan kepala kampung Kenual pada waktu itu adalah Samuil Poter. Mastahar menjabat sebagai kepala desa dua periode sampai tahun 2008. Sejak Mastahar menjabat sebagai kepala Desa Nanga Biang, status kampung Kenual baru disebut RT yang bergabung dengan Dusun Kayan sebagai kepala dusun Kayang pada waktu itu adalah Aleng sedangkan ketua RT XV Kenual adalah Samuil Poter (1992-2002)

Adapun Kenual disebut RT dan Kayan sebagai dusun karena secara geografis Kayan lebih dekat dari desa Nanga Biang dan pada waktu itu jumlah jiwa dan KK Kenual belum mencukupi untuk dusun walaupun fasilitas pemerintah ada di Kenual yaitu Bangunan Sekolah Dasar.

Pada tahun 2002, Samuil Poter diganti oleh Among sebagai ketua RT mulai tahun 2002-2007. Pada tahun 2008 Mastahar telah berakhir masa jabatannya sebagai kepala desa maka dipilihlah kepala desa yang baru. Setelah pemilihan kedua kali maka hasil suara dinyatakan sah terpilihlah  Apan sebagai kepala desa Nanga Biang periode 2008-2014. Sedangkan tahun 2007 masa kepemimpinan Among telah berakhir dan diganti oleh Yakobus Akon sebagai ketua RT XV Kenual (2007-2009)  dan sebagai PLT RT XV Kenual adalah Rudi Hartono tahun 2007-2009).

Pada tanggal 26 Oktober 2009, Rudi Hartono dan Yakobus Akon mengundurkan diri secara tertulis dari jabatan masing-masing. Karena itu diadakan musyawarah kampung untuk memilih pengurus baru dengan hasil sebagai berikut: PLT RT XV Kenual adalah Evensius Muswar, ketua RT 15 adalah Suparto. ketua RW adalah Sabinus Sante dan Ketua Adat adalah Yakobus Akon.

Berdasarkan aspirasi masyarakat Kenual tahun 2009 dan atas penyampaian dari kepala Desa Nanga Biang, maka diusulkan untuk membentuk dusun baru yaitu dusun Kenual. Usulan itu telah disampaikan dan baru sejak tanggal 25 Januari 2010 bertepatan dengan Pelantikan Kepala Dusun kenual, Kenual dinyatakan Dusun. Bertepatan dengan itu juga terjadi pembentukan RT baru yang disebut RT. 19. Struktur kepemimpinan setelah menjadi dusun adalah Kepala Dusun Evensius Muswar (2010-sekarang), Ketua Rt. 15 Kenual adalah Andreas Suparto, Ketua RT. 19 adalah Sabinus Sante dan Ketua Rt. 17 Kenual (Sido Makmur) adalah Sutarto dan Ketua RW. VII adalah Nata Somantri.

Demikian sejarah kronologis Dusun kayan, Kenual yang dapat disampaikan sebagai bahan pertimbangan untuk membentuk Desa Botuh Lintakng.

 

Kenual,    Juni 2010